fashion2

Pada dasar nya dulu masyarakat indonesia sangat sangat menilai nilai nilai peradaban dan Nilai kesatuan, dulu nya indonesia hidup penuh dengan sebuah keyamanan dengan sebuah pemerintahan yang merakyat hal itu sesuai dengan asaz nya yaitu pancasila yang merupakan ideologi dasar bangsa hal ini dipilih rakyat indonesia menggangap bahwa pancasila merupakan icon yang cocok sesuai dengan sifat - sifat dan karakter orang indonesia dulu yang dimana keramahan, gotong royong dan saling tolong menolong tanpa pamrih nya lah rakyat indonesia yang dulu memilih pancasila sebagai icon dan ideologi. Namun berbeda hal nya dengan rakyat indonesia dan pemimpin yang sekarang yang dimana mereka hanya mementingkan diri sendiri ketimbang rakyat dan orang - orang nya juga dimana sekarang kurang nya kebersamaan dalam gotong royong, tolong menolong dan banyak yang meperkaya diri tanpa harus melihat orang yang lain rakyat indonesia sekarang hanya lah berbicara kesatuan dan solidaritas tapi nyata nya masih saja banyak yang menyimpang dari rasa kesatuan dan patriotisme nya misal nya saja masih mengaggap gengsi akan hal kecil seperti orang kaya yang selalu selalu mempunyai kekuasaan Contoh nya saja dalam kasus korupsi orang kaya yang korupsi bukan nya malah di jatuhi hukuman dan jadi miskin tetatpi malah dia semakin kaya di dalam penjara bisa hidup serba mewah gengsi akan hal yang miskin dan bangga akan hal - hal mewah akan tetapi mereka tak pernah memikirkan akan orang yang miskin yang penting diri nya send

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/syawalgrenzer/perbedaan-orang-indonesia-dulu-dan-sekarang-dalam-berpolitik_55202035a333112940b65fe3
Manusia sudah mengenal fashion dari berabad-abad lalu. Diawali dengan pakaian-pakaian sederhana yang terbuat dari kulit kayu ataupun kulit binatang. Kemudian seiring dengan perkembangan peradaban manusia, maka cara berpakaian mereka pun semakin berubah dan menjadi lebih baik dan lebih baik lagi dari sebelumnya. Manusia mulai mengenal kain dan menciptakan sebuah baju yang lebih layak dan lebih bisa melindungi mereka dari cuaca.

Masyarakat Eropa dan Amerika adalah masyarakat yang sangat concern dengan perkembangan fashion mereka. Meski pada awalnya fashion Eropa dan Amerika lebih menitikberatkan pada perkembangan baju para laki-laki namun, kedepannya perkembangan fashion wanita ternyata jauh lebih pesat dari yang dibayangkan. Semakin lama fashion wanita menjadi terpengaruh pada image kecantikan yang terjadi pada masa tertentu. 
Pada abad XV, citra wanita keibuan menjadi tolok ukur kecantikan, sehingga fashion yang berkembang pada masa itu adalah model gaun yang bertumpuk-tumpuk, dengan garis bulat melingkar tubuh dan menekankan perhatian utama pada dada dan perut, serta di dominasi warna-warna kuat dan terang. Fashion berkembang pada abad ke XIX, dimana kain bertumpuk-tumpuk dan warna terang mulai ditinggalkan. Wanita pada jaman tersebut akan dikatakan cantik apabila mereka memiliki image rapuh. Maka tumbuhlah fashion yang menggambarkan kerapuhan wanita. Dengan pemilihan kain tipis yang mudah rusak beserta warna-warna pucat, benar-benar menggambarkan kerapuhan wanita yang sesungguhnya.
Ditambah lagi belahan dada yang sangat rendah yang membuat wanita gampang sekali terserang flu pada saat musim dingin. Sekitar tahun 1830-an munculah fashion yang bermaksud hendak melindungi wanita dari cuaca, maka lahirlah korset pada masa itu. Korset sebagai pakaian yang berfungsi sebagai pakaian dalam wanita memang dapat melindungi wanita dari cuaca, tapi dampaknya, si pemakai akan sangat tersiksa dengan ketatnya korset yang mereka pakai. Korset pun sebenarnya memiliki perkembangannya sendiri, di mulai dari korset yang memiliki penyangga dari besi, hingga kemudian berubah menjadi tulang ikan hiu, namun kesemuanya adalah bahan-bahan yang tidak benar-benar membuat wanita merasa nyaman.
Wanita cantik pada masa ini masih digambarkan wanita yang lemah dan tidak berdaya, wanita dengan perut yang sangat langsing dengan korset yang menekan, dan wanita yang mudah pingsan untuk menarik perhatian lawan jenisnya. Hal ini juga yang digambarkan Margaret Mitchell pada novel-nya Gone with the Wind. Yang mana sosok wanita cantik dan menarik perhatian adalah wanita yang lemah dan tidak berdaya.

Namun sebenarnya tidak semuanya, itu hanya penggambaran sosok wanita Amerika awal abad ke-20 yang tinggal di Amerika bagian Selatan. Sementara untuk para wanita Amerika yang tinggal pada Amerika bagian Utara tidak memiliki streotipe seperti demikian. Hal ini dikarenakan kultur Amerika Utara yang mana masyarakatnya adalah masyarakat pekerja, begitu pula dengan para wanitanya. Hal ini terlihat pada penggambaran karakter pada novel Little House on the Prairie, karya Laura Ingalls Wilder. Di sini digambarkan bahwa para wanitanya cukup mengenakan baju kerja seadanya dan hanya menggunakan baju-baju indah yang dirasa perlu hanya pada saat moment-moment tertentu.
Masa-masa ini adalah masa pada awal abad ke-20, wanita sudah mulai mengeksplosasi dan membebaskan gay berpakaian mereka, tapi korset masih belum bisa ditinggalkan. Masa ini disebut masa “Belle Epoque” (atau yang biasa disebut gaya ala perancis), menitik beratkan pada siluet S-bend atau menonjolkan dada dan pinggulnya, dan masih dihiasi payet-payet serta renda-renda di sekitarnnya, sehingga masih terkesan nampak boros dn tidak paktis.

Memasuki tahun 1920-an, fashion sudah memihak pada wanita, korset-korset mulai ditinggalkan, sementara potongan baju sudah berubah menjadi di longgar dan tidak menyiksa, celana panjang pun mulai dikenakan yang diawali dengan yang berbentuk kulot. Wanita tidak perlu lagi merasa tersiksa dengan b aju yang ketat dan berat.

Related Posts:

0 Response to "fashion2"

Posting Komentar